* Perdagangan antar Negara
perdagangan yang dilakukan oleh
penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan
bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan
individu), antara individu dengan pemerintah
suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.
Ada beberapa faktor yang mendorong
semua negara di dunia melakukan perdagangan luar negeri. Faktor-faktor
pendorong tersebut terdiri atas hal-hal berikut ini.
- Perbedaan Sumber Daya Alam yang Dimiliki
Barang
kebutuhan yang dapat dihasilkan oleh suatu negara tergantung pada sumber daya
alam yang dimiliki. Perbedaan sumber daya ini juga tergantung pada kondisi
wilayah di negara tersebut. Misalnya di Indonesia wilayah daratannya luas dan
subur, sehingga sangat cocok untuk pertanian, yang sebagian besar hasil
produksinya berupa kelapa sawit, karet, kopi, dan sebagainya. Sedangkan negara
Singapura wilayah daratannya relatif sempit, sehingga kegiatan pertanian atau
perkebunan cukup sedikit. Singapura dikenal sebagai negara industri yang
menghasilkan beraneka ragam barang, salah satunya adalah alat-alat elektronik.
Kebutuhan hasil-hasil pertanian dipenuh dengan cara mengimpor dari negara lain.
Setiap
negara memiliki teknologi yang berbeda, sehingga barang yang dihasilkannya juga
berbeda. Perbedaan-perbedaan inilah yang mendorong kegiatan pertukaran barang
antarnegara. Perbedaan teknologi tersebut memungkinkan suatu negara untuk
mempelajari teknik produksi yang lebih modern dan mengimpor mesin-mesin atau
alat-alat yang lebih modern untuk mewujudkan teknik dan cara produksi yang
lebih baik.
- Penghematan Biaya Produksi
Perdagangan
internasional memungkinkan suatu negara memproduksi barang dalam jumlah besar
sehingga biaya produksi menjadi rendah. Misalnya Indonesia banyak menghasilkan
barang-barang seperti padi, minyak kelapa sawit, kayu lapis, dan sebagainya.
Namun, yang paling menguntungkan Indonesia bila memproduksi tekstil dan kayu
lapis untuk diekspor ke berbagai negara, karena dapat menghemat biaya produksi.
Setiap
negara dalam memproduksi barang-barang, kemungkinan mempunyai kesamaan.
Meskipun demikian setiap negara mempunyai selera yang berbeda-beda. Hal inilah
yang mendorong kegiatan perdagangan antarnegara. Misalnya Jepang dan Korea
Selatan samasama menghasilkan barang-barang elektronik dan ikan tuna dalam
jumlah yang hampir sama, tetapi orang Jepang lebih suka ikan tuna dan orang
Korea Selatan lebih suka produk elektronik. Pada kondisi tersebut, negara
Jepang lebih baik mengekspor barang-barang elektronik, sedangkan Korea Selatan
lebih baik untuk mengekspor ikan tuna. Dengan demikian, kepuasan dari setiap
negara dapat terpenuhi.
*Kebijaksanaan Perdagangan luar
negeri dari pelita ke pelita
Bahwa pembangunan nasional
direalisasikan melalui, Pembangunan Jangka Pendek dan Pembangunan
Jangka Panjang.. Selama masa Orde Baru, pemerintah telah melaksanakan enam
Pelita yaitu:
- Pelita I (1 April 1969 - 31 Maret 1974)
- Menjadi landasan awal pembangunan masa Orde Baru.
- Tujuan Pelita I
adalah meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan
dasar-dasar bagi pembangunan tahap berikutnya.
- Sasarannya
adalah pangan, sandang, perbaikan prasarana perumahan rakyat, perluasan
lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani.
- Pelita II
(1 April 1974 - 31 Maret 1979)
- Sasaran utama Pelita II ini adalah tersedianya pangan, sandang, perumahan,
sarana prasarana, mensejahterakan rakyat, dan memperluas kesempatan kerja.
- Pelaksanaan Pelita II dipandang cukup berhasil. Pada
awal pemerintahan Orde Baru inflasi mencapai 60% dan pada akhir Pelita I
inflasi berhasil ditekan menjadi 47%. Dan pada tahun keempat Pelita II
inflasi turun menjadi 9,5%.
- Pelita III
(1 April 1979 - 31 Maret 1984)
- Pelaksanaan Pelita III masih berpedoman pada Trilogi
Pembangunan, yang isinya:
- Pemeratan pembangunan dan
hasil-hasilnya menuju kepadaterciptanya keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
- Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
- Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis
- Pelita IV
(1 April 1984 - 31 Maret 1989)
- Titik berat Pelita IV ini adalah sektor pertanian untuk menuju swasembada pangan,
dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri.
- Dan di tengah berlangsung pembangunan pada Pelita IV
ini yaitu awal tahun 1980 terjadi resesi. Untuk mempertahankan
kelangsungan pembangunan ekonomi, pemerintah mengeluarkan kebijakan
moneter dan fiskal.
- Pelita V
(1 April 1989 sampai 31 Maret 1994)
- Titik beratnya
terdapat pada sektor pertanian dan industri. Pada masa itu kondisi ekonomi
Indonesia berada pada posisi yang baik, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar
6,8% per tahun. Posisi perdagangan luar negeri memperlihatkan gambaran
yang menggembirakan. Peningkatan ekspor lebih baik dibanding sebelumnya.
- Pelita VI
(1 April 1994 sampai 31 Maret 1999)
Titik berat pada Pelita VI ini ditekankan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan
industri dan pertanian, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai
pendukungnya.
Hambatan
Perdagangan Antar Negara
Hambatan perdagangan adalah regulasi
atau peraturan pemerintah yang membatasi perdagangan bebas.
Bentuk-bentuk hambatan perdangangan antara lain:
- Tarif atau bea cukai
Bea cukai adalah pungutan oleh negara secara tidak langsung kepada konsumen
yang menikmati/menggunakan obyek cukai.
- Kuota.
Kuota membatasi banyak unit yang dapat diimpor untuk membatasi jumlah barang
tersebut di pasar dan menaikkan harga.
- Subsidi.
Subsidi adalah bantuan pemerintah untuk produsen lokal. Subsidi dihasilkan dari
pajak. Bentuk-bentuk subsidi antara lain bantuan keuangan, pinjaman dengan bunga
rendah dan lain-lain.
- Muatan lokal.
- Peraturan administrasi.
- Peraturan antidumping.
Di Indonesia, hambatan perdagangan banyak digunakan untuk membatasi impor
pertanian dari luar negeri untuk melindungi petani dari anjloknya harga lokal.
Neraca
pembayaran
suatu ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan
penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Neraca
pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari
individu dan pemerintah asing, dan transaksi finansial. Umumnya neraca
pembayaran terbagi atas neraca transaksi berjalan dan neraca lalu lintas modal
dan finansial, dan item-item finansial.
Transaksi dalam neraca pembayaran dapat dibedakan dalam dua macam
transaksi.
- Transaksi debit, yaitu transaksi yang menyebabkan
mengalirnya arus uang (devisa) dari dalam negeri ke luar negeri. Transaksi ini
disebut transaksi negatif (-), yaitu transaksi yang menyebabkan
berkurangnya posisi cadangan devisa.
- Transaksi kredit adalah transaksi yang menyebabkan
mengalirnya arus uang (devisa) dari luar negeri ke dalam negeri. Transaksi
ini disebut juga transaksi positif (+), yaitu transaksi yang menyebabkan
bertambahnya posisi cadangan devisa negara.
Selain transaksi barang
dan transaksi jasa, ada jenis hubungan ekonomi internasional yang disebut
transaksi modal dan transaksi keuangan. Meski baru belakangan dikenal luas,
namun perkembangan nilainya sangat spektakuler. Dilihat dari ciri pokok dan
bentuk dasar hubungan ekonomi, sebenarnya transaksi modal dan keuangan
merupakan transaksi jasa. Namun karena besaran dan ciri tertentu yang khas,
serta untuk kemudahan analisa, jenis perdagangan ini biasa dikategorikan secara
tersendiri. Yang termasuk jenis ini antara lain adalah transaksi utang piutang
dan penanaman modal atau investasi lintas negara.
Perkembangan pun
terjadi dalam hal pelaku perdagangan internasional. Kini, pelakunya adalah
pemerintah, individu, perusahaan, serta lembaga-lembaga non negara. Beberapa
lembaga bahkan tidak bernaung dalam yurisdiksi suatu negara, melainkan bersifat
internasional, seperti: Bank Dunia, IMF, ADB, dan lain-lainnya.
Transaksi ekonomi yang
bersifat internasional lazim dicatat secara sistematis oleh setiap negara. Di
kebanyakan negara, catatan itu direkapitulasi dan dipublikasikan secara rutin,
setiap tahun dan setiap tiga bulan. Pencatatan dan penghitungan dilakukan
dengan sudut pandang masing-masing negara. Fokus utama pencatatan adalah keluar
masuknya uang dalam denominasi mata uang asing (devisa). Jadi yang hendak
dicatat adalah seberapa banyak devisa masuk dan keluar dalam kurun waktu
tertentu, akibat adanya transaksi ekonomi dengan luar negeri.
Di setiap negara,
pencatatan ada yang dilaksanakan oleh suatu departemen atau lembaga
pemerintahan, dan ada pula yang dilakukan oleh bank sentralnya. Perlu diketahui
bahwa sebagian besar bank sentral saat ini bersifat otonom dari pemerintahan
dan dianggap sebagai suatu lembaga negara. Di Indonesia pun pencatatan dan
publikasi dilakukan oleh Bank Indonesia. Dalam beberapa bagian tertentu ada
pula yang dicatat dan dipublikasikan oleh BPS, namun dengan sedikit perbedaan
pendekatan.
Peran
Kurs Valuta Asing Pada Perekonomian Indonesia
Kurs valuta asing
sering diartikan sebagai banyaknya nilai mata uang suatu negara (Rupiah
misalnya) yang harus dikorbankan/dikeluarkan untuk mendapatkan satu unit mata
uang asing (Dollar misalnya). Sehingga dengan kata lain. Jika kita gunakan
contoh dollar dan rupiah, maka kurs valuta asing adalah nilai tukar yang
menggambarkan banyaknya rupiah yang harus dikeluarkan untuk medapat satu unit
dollar dalam kurun waktu tertentu. Masalah kurs valuta asing mulai muncul
ketika transaksi ekonomi sudah mulai melibatkan dua negara (mata uang) atau
lebih, tentunya sebagai alat untuk menjembatani perbedaan mata uang di
masing-masing negara.
Sebab-sebab perubahan
permintaan dan penawaran valuta asing diantaranya :
- Perubahan
selera masyarakat terhadap komoditi luar negeri
Semakin banyak
masyarakat Indonesia menyukai dan membutuhkan barang luar negeri, maka
kebutuhan akan mata uang asing ($) akan semakin banyak pula untuk mendapatkan
barang dari luar tersebut.
- Perubahan
iklim investasi dan tingkat bunga
Perubahan iklim
investasi yang semakin aman dan menarik dapat menyebabkan arus modal asing
makin banyak yang masuk, yang berarti penawaran modal asing berupa dolar
meningkat.
- Perubahan
tingkat inflasi
Inflasi yang tinggi
dapat menyebabkan komoditi ekspor kita kurang dapat bersaing di pasaran dunia.
Karena dengan adanya inflasi yang tinggi, harga ekspor akan terasa mahal.
Akibatnya jarang yang mau membeli komoditi ekspor kita. Hal ini identik dengan
menurunnya penawaran dollar untuk membeli ekspor kita tersebut.
Prospek dan iklim
investasi yang menarik (aman dan tingkat penghasilan yang tinggi) di Indonesia
akan turut mempengaruhi banyak tidaknya penawaran dollar ke Indonesia. Semakin
menarik maka nilai rupiah akan semakin tinggi (apresiasi).
Mata uang asing dapat
diperjualbelikan. Tempat untuk jual beli valuta asing di bank devisa atau money
changer. Penghitungan dalam jual beli valuta asing didasarkan pada kurs jual
dan kurs beli. Kurs jual adalah kurs yang diberlakukan oleh bank apabila bank
menjual mata uang asing. Adapun kurs beli adalah kurs yang diberlakukan oleh
bank apabila membeli mata uang asing.
Apabila kita perhatikan
di tempat-tempat penukaran valuta asing, harga kurs jual akan lebih tinggi
dibandingkan kurs belinya. Mengapa demikian? Karena mereka ingin mendapatkan
keuntungan. Keuntungan jual beli valuta asing dapat diperoleh dari selisih kurs
jual dengan kurs beli.
http://blog-deasyrouli.blogspot.com/2011/04/peran-kurs-valuta-asing.html
http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Perdagangan_Internasional_9.2_(BAB_7)
http://sonny1107.wordpress.com/2011/05/13/peran-kurs-valuta-asing-pada-perekonomian-indonesia/
http://genienkalestari.blogspot.com/2012/03/peranan-kurs-valuta-asing-pada.html
http://yasinta.wordpress.com/2008/07/22/neraca-pembayaran-internasional-balance-of-payment/
http://tugaskuliah-adit.blogspot.com/2011/04/hambatan-perdagangan-antar-negara.html
http://mifta-huljannah.blogspot.com/